Ini Dia! Tips Berlibur Dengan Cara Slow Traveling yang Harus Kamu Tahu!

432

Tips Berlibur Dengan Cara Slow Traveling

Slow Traveling


Berlibur dengan cara Slow Traveling - Banyak dari kita yang ingin cepat sampai di tempat tujuan meskipun sedang berlibur. Bila sudah sampai, kita punya segudang itinerary harus melihat ini atau melakukan itu. Alhasil, sepulangnya ke rumah, bukannya merasa disegarkan kembali oleh pengalaman perjalanan, kita malah merasa kosong dan lelah.

Kalau itu yang terjadi, apa makna perjalanan bagi kita?

Berusaha menjawab masalah tersebut, tercetuslah gerakan slow traveling, Gerakan ini bisa dibilang kepanjangan gerakan slow food, yang mencoba melawan ekspansi fast food yang mendunia, tapi berbeda dan bahkan bisa dibilang memiliki cakupan yang lebih luas.

 

Melawan fast food, gerakan slow food mengajak penganutnya untuk menikmati acara makan dan tentu saja hidangannya.

Acara makan dinikmati komplet mulai dari makanan pembuka, hidangan utama, hingga

makanan penutup.

 

Tentunya semua sambil mengobrol kanan-kiri tentang berbagai topik bisa berkepanjangan sampai tiga jam lebih, tapi esensinya adalah mempererat tali silaturahim,

lebih menghargai makanan yang kita santap-mulai dari proses penanaman/penetasan/kelahiran, proses merawat/membesarkan tanaman/ternak atau proses menangkapnya,

dan proses pengolahannya hingga jadi makanan siap santap-juga penghargaan terhadap diri dan kesehatan kita sendiri.

 

Serupa tapi tak sama dengan slow food, gerakan slow traveling juga menekankan pada menikmati secara penuh dan menghargai perjalanan dan proses yang kita tempuh. Kita benar-benar menikmati dan menyatu dengan Pengalaman yang kita hadapi.

Dengan demikian, kita bias lebih menghargai pengalaman perjalanan kita tersebut. perjalanan pun menjadi tidak sia-sia, karena kita pasti pulang dengan rasa bahagia.

 

Gaya slow traveling memberi kita kesempatan untuk mengalami dunia perjalanan ini membuka pintu petualangan bagi kita.

Misalnya saja, perjalanan Jakarta-Yogyakarta yang ditempuh dalam waktu kurang lebih satu setengah jam dengan pesawat terbang mungkin tidak memberi cukup waktu untuk membuka percakapan dengan teman yang duduk di sebelah kita.

Berbeda dengan perjalanan Jakarta-Yogyakarta dengan kereta api atau bus yang ditempuh dalam waktu delapan sampai dua belas jam.

Waktu sepanjang itu entah bisa kita habiskan dengan tidur membaca buku, atau membuka obrolan dengan teman seperjalanan yang tadinya tidak kita kenal.

 

Atau bisa juga kita sekadar menjadi pengamat, apa saja yang terjadi di sekeliling kita. Sebagai pengisi waktu, kegiatan apa pun bias jadi menyenangkan dan membuat kita jadi punya cerita untuk dikisahkan saat kembali ke rumah.

 

Para pionir perjalanan seperti Mark Ellingham, pendiri seri buku panduan perjalanan Rough Guides, dan Tony Wheeler, pendiri seri buku panduan perjalanan Lonely Planet, juga sangat mendukung gerakan slow traveling ini.

 

Slow traveling adalah gaya bepergian yang ramah lingkungan. Mulai dari pilihan moda transportasinya yang lebih lambat (kereta api lebih lambat daripada pesawat terbang,

Bus lebih lambat daripada kereta api, dan bersepeda serta berjalan kaki tentu lambat sekali) sampai pilihan kegiatannya (menikmati pengalaman di satu tempat wisata tanpa terburu-buru pindah ke sana kemari) slow traveling memang hijau, jejak karbon yang ditinggalkannya pun sedikit.

 

Berkaitan dengan moda transportasi dan menikmati secara penuh suatu daerah tertentu, Ellingham dan Wheeler

sadar bahwa tidak mungkin orang harus ke mana-mana hanya dengan kereta api atau sepeda. Karena itu, mereka

memasyarakatkan kampanye "fly less, stay longer" Artinya, bukannya tidak boleh terbang, tapi lebih baik kita terbang ke satu tempat saja, lalu tinggal dan menikmati tempat tersebut.

 

"slow traveler mengunjungi lebih sedikit tempat, tapi benar-benar mengulik tempat-tempat tersebut luar-dalam.

Ini membuat kita jadi lebih mengenal dan memahami lokasi, masyarakat, dan budaya tempat tersebut, kata Ellingham.

 

"Bagian dari slow traveling adalah mengunjungi tempat yang dekat dengan rumah kita. Sekali-sekali kita harus melakukannya.

" Ide ini mirip dengan ide gerakan stay cation yang sudah diterangkan di depan.

 

Bonus dari gaya perjalanan slow traveling ini adalah ongkos perialanan yang lebih murah. Harga tiket kereta api tentu lebih murah daripada harga tiket pesawat, sementara harga tiket bus lebih murah daripada harga tiket kereta api, dan seterusnya.

 

Bila kita ingin menikmati betul dinamika hidup masyarakat lokal di tempat tujuan, menginap di losmen kecil atau di rumah penduduk tentu lebih murah daripada di hotel berbintang atau resor mewah.

 

Salah satu penggagas berlibur dengan cara slow traveling, Theophile Gautier menyatakan bahwa slow traveler tidak mengejar destinasi. Mereka bisa merasakan sensasi perjalanan dan menikmati liburan di mana saja.

 

Artikel Terkait yang Mungkin Anda Suka:
Category: Tips LiburanTags:
No Response

Leave a reply "Ini Dia! Tips Berlibur Dengan Cara Slow Traveling yang Harus Kamu Tahu!"